Hati Biru Affa
Mungkin dari semua perempuan, hanya Rahima yang bisa aku pahami seperti kertas putih.
“Sudah ya Rara, jangan nangis lagi. Kamu harus bahagia dong pas hari wisudamu,” pesanku lagi. Rahima menganggukkan kepalanya pelan. Setelah matanya bersih dari air yang mengalir, aku melihat betapa berantakannya make up yang dikenakan Rahima.
“Kamu cuci dulu wajahmu deh Ra, sudah berantakan soalnya,” komentarku. Rahima menganggukkan kepala dan segera pergi ke wastafel terdekat. Aku pun mengikutinya.
الفصول الرائجة