Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Janda Kembang Milik Polisi Perjaka

Janda Kembang Milik Polisi Perjaka

ucap Senja dengan nada suara yang sedikit tergeragap . ... To be Continued.
102.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 53 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
MY ANNOYING BOYFRIEND

MY ANNOYING BOYFRIEND

Sejujurnya, seni merupakan pelajaran yang ia sukai, ia bisa menggambar dan menuangkan perasaannya dalam secarik kertas—mencoret asal pada kertas putih. Memperhatikan sang guru dengan seksama yang sedang menggambar di atas kanvas putih dan menjelaskan tentang arti dari gambar yang sedang dibuat. Lagi dan lagi, ia dibuat kagum oleh gambar setengah jadi itu. Gambar bunga mawar kuning yang diberi coretan asal lalu dirobek garis miring dan dijahit kembali oleh benang wol berwarna hitam. Menjelaskan jika keceriaan yang menyembunyikan luka. Mawar kuning bermakna keceriaan lalu garis miring adalah lukanya dan jahitan bisa disebut obat atau persembunyian. Seolah merasa tersindir, Lilac tersenyum tipi
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 90 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Seruni Senja

Seruni Senja

jawab Murid serentak Sudah satu jam berlalu Ira belum juga mulai menggambar karena ia memang tidak ada bakat menggambar. “Wah Irsab kau selalu embuatku kagum, gambaran kamu bagus sekali aku suka,” kata Ira sambil melihat gambar Irsab. “Kau suka? Kalau gitu buat kamu saja,” kata Irsab “Tidak itu kan gamabaran kamu, seharusnya buat kamu sendiri, aku tidak mau,” jawab Ira “Lalu kamu akan mengumpulkan apa? Memang kamu biasa gambar? Toh ini juga sengaja aku gambar buat kamu jadi aku buat seadanya,” kata Irsab
106.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 189 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Rahasia Senja

Rahasia Senja

Senyum Senja terbit seketika. Ting... nong... Bunyi bel membuat Senja beranjak dari lamunannya, senyumnya masih merekah di wajahnya. Sampai pintu rumah itu terbuka. "Dengan mbak Senja?" "Iya, Pak." "Tolong tanda tangan di sini," ujar pengirim paket itu, sambil menunjuk kertas yang dia pegang dan pulpen yang ia sodorkan ke arah Senja.
9.97.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 208 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Senja Yang Di Hadirkan

Senja Yang Di Hadirkan

Bahkan, tentang si kembar yang merupakan anak kandung Senja. Senja tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ia menunduk, lalu perlahan membetulkan selimut di dada perempuan tua itu. Dalam hati, ia tahu bahwa tak semua luka bisa disembuhkan waktu. Ada yang hanya bisa diterima dengan air mata dan penyesalan yang tak pernah habis. *
106.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 123 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Pelangi atau Senja

Pelangi atau Senja

“Mungkin gitu, lagian dia bakal bingung kalau kamu hilang begitu saja, makanya aku izin biar dia Tidak cari kamu.” “Iya sudah ayo cepat, sudah malas aku!” ajakku padanya, sedangkan Andre hanya menanggapi jawabanku dengan senyuman . “Rasanya kok aneh setiap aku melihat senyum Andre, batal mantai batal pula melihat senja lagi, lagian Aryan main hilang begitu saja, mau menolak ajakan Andre juga tidak enak,” batinku bermonolog sendiri.
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 52 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Sang Peramu Hasrat

Sang Peramu Hasrat

"Dia mau manfaatin kamu. Dia mau karya yang provokatif. Dia mau ngejual sensasi." "Bagus dong," Lily tersenyum miring. Senyum yang membuat Julian merinding karena mirip sekali dengan senyum Sarah. "Kalau dia mau provokatif, aku kasih provokatif." Lily mengambil buku sketsanya yang tadi dia tutup. Dia menyerahkannya pada Julian. "Liat ini, Mas." Julian membuka buku itu. Halaman pertama bukan abstrak. Itu adalah sketsa hitam putih yang sangat detail.
788 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Luka di Ujung Senja

Luka di Ujung Senja

“Iya. Pohon yang cuma berdiri. Nggak ngomong.” Anggi tertawa. “Akhirnya peran yang sesuai ambisimu untuk istirahat.” Sementara itu, Anggi sendiri mulai melakukan sesuatu yang lama ia tunda: melukis lagi. Bukan gambar kota atau jembatan, tapi warna-warna abstrak yang tidak perlu dijelaskan. Kadang ia melukis malam-malam saat rumah sudah sunyi. Rendra pernah berdiri di belakangnya dan bertanya, “Ini gambar apa?”
1.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Merenungi Masa Lalu di Bawah Mentari Senja

Merenungi Masa Lalu di Bawah Mentari Senja

Suara Sylvaria lembut, penuh rasa haru. Vandero menoleh kepadanya, tatapannya penuh kelembutan yang belum pernah dia berikan kepada Therina. "Nggak pernah sekali pun aku melupakannya." Dia meletakkan telur mata sapi yang baru digoreng ke piring dan mendorongnya ke depan Sylvaria. "Coba, lihat apa rasanya masih sama." Sylvaria mencicipinya, wajahnya segera berseri. "Lebih enak daripada dulu."
7.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 293 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Sebening Senja

Sebening Senja

Hanya di kamar ini ia bisa menunjukkan sebenar-benar dirinya, tanpa seorang pun tahu yang ia pikirkan bahkan rasakan. Jalinan air dan bumi, semakin merapat hingga tak ada celah untuk tak membasahi setiap benda yang terusap. Hadirnya selalu mampu memaksa Senja mengingat jejak lapuk yang kusut namun sulit untuk surut. Selalu ia nikmati meski pahit, selalu nagih seperti kopi dalam gelas gelatik yang ia genggam. Bersama tegukan dari bibirnya mengalir rindu menyesap hingga ke hati. "Senja, hujan." Bibir itu bergetar menahan dingin. Ia melipat tangan di depan dada seraya mendekap jaket yang terlihat lebih besar dari ukuran badannya.
3.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 102 kali sebagai melukis senja lirik
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
8
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status