Ujung Senja
Fahmi berkata pelan, tetapi cukup mengagetkanku yang sedang melamun.
“Eh, enggak.” Aku tergagap. “Tapi, rasanya, Pekanbaru tidak sejauh dulu, ya,” ucapku mengurai gugup yang membuat perasaanku tak nyaman.
“Iyo, Ra. Sedap sekarang. Sejak ada jembatan, jalan Maredan sudah dibuka, Pekanbaru terasa dekat. Dulu kami memutar kalau nak ke Pekan. Maredan ini ibaratnya jalan motong, Ra. Tak payah mutar jauh.”
Capítulos em Alta