Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
CacaCici
Holla, MyRe. Mohon maaf untuk bab 15, dan tolong jangan dibaca dulu. Bab tersebut bukan bab dari cerita ini, CaCi salah up. Sekarang sedang proses revisi, tetapi karena besok hari Minggu dan editor libur mungkin hari Senin baru revisinya direview oleh editor. Mhn Maaf sekali lagi, MyRe. 人⁠ ⁠•͈⁠ᴗ⁠•
ryutaa
12-8-25 23:40 done kelar baca novel ini hehehe cerita disini jg ada spilannya nindi n cacan makasih ya kak,ceritanya seru semua... cuma agak gmna gitu giliran mendekati ceritanya zana-ebrahim typo nya banyak bngt hiks T.T tp ku suka kok wlwpun kadang kesel pas Nemu typonya ahaha. maapken ya caci
Read All Reviews
Setelah Engkau Mendua

Setelah Engkau Mendua

Dengan menurunkan ego, akhirnya aku kembali merujuk dia sebagai istri. * "Pak Bima." Sapaan seorang lelaki membuatku kaget. Kilasan masa lalu membayang begitu saja di benak. "Sore-sore begini memang enaknya merenung ya Pak, apa sih yang dipikirkan?" tegur Pak Agung direktur salah satu perusahaan yang sudah menandatangani MOU. "Nggak ada Pak, cuma sedang takjub saja dengan keindahan pantai Watu Dodol ini."
9.167.7K viewsOngoingAdded to Library 1.8K Times as menguak
Read
+Library
AFRAID

AFRAID

ucap Indra. ****** To be continue.
104.3K viewsCompletedAdded to Library 94 Times as menguak
Read
+Library
Kak, Aku Kedinginan

Kak, Aku Kedinginan

Kak Dimas duduk sendirian di anak tangga batu taman. Angin malam bulan November terasa dingin. Dia hanya mengenakan kemeja tipis, lengan bajunya masih tergulung hingga menampakkan luka gores di lengan bawah, luka yang didapat saat mendobrak pintu. Ada sesuatu di dalam sakunya. Dia merogohnya keluar. Benda itu adalah tombol sakelar darurat yang tiga hari lalu dia cabut dari ruang pendingin.
2.1K viewsCompletedAdded to Library 63 Times as menguak
Read
+Library
MENANTU MUSUHKU

MENANTU MUSUHKU

“Tidak mungkin.” Layar menyala. Hanya satu gambar: siluet seseorang duduk di kursi gelap. Wajahnya tidak terlihat. Suara keluar, tenang, berwibawa. “Delia Adinegara.” Delia merasakan dadanya sesak, tapi ia melangkah maju. “Akhirnya kau muncul.” Arga refleks maju setengah langkah. “Matikan ini.”
585 viewsOngoingAdded to Library 19 Times as menguak
Read
+Library
Engkau Talak, Aku Tak Menolak

Engkau Talak, Aku Tak Menolak

Tetapi dia memilih tidak membicarakan. “Mode speaker, Nak,” pinta Diah. Qilla pun menuruti. Begitu speaker telepon dinyalakan, Diah mendengar Mya menyatakan rasa kangennya. Seketika ibu dua anak itu pun menangis. “Kak, ini Ibu,” katanya di tengah isakan. [Ibu! Mya kangen.] Anak sulungnya itu berteriak, memanggilnya dengan suara histeris.
19.9K viewsOngoingAdded to Library 696 Times as menguak
Read
+Library
PREV
1
...
34567
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status