PESONA ISTRI NAKAL CEO
“Tulis apa pun yang ingin kamu katakan, tanpa perlu berpikir benar atau salah.”
Reina menarik napas panjang, menunduk, dan perlahan menorehkan kata di atas kertas. Baris pertama masih goyah, huruf-hurufnya bergeser tak rapi. Ia menulis pelan, nyaris berbisik, ‘Ma, aku rindu.’ Air matanya jatuh sebelum baris kedua sempat selesai.
Abian segera bergerak, mendekat, merangkul bahunya. “Nggak apa-apa, Sayang,” bisiknya. “Tulisin aja semuanya. Aku di sini.”
Hot Chapters