Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!
“Hana, rahimmu jauh lebih berharga daripada hanya sekadar alat taruhan mereka. Jangan jadi wanita bodoh.”
“Lalu aku harus bagaimana, Mas?! Aku tidak bisa memaksa mas Hendra menyentuhku!” teriakku frustrasi, air mata kembali menggenang.
Mas Angga meraih daguku, memaksaku menatapnya. “Ada aku, Hana. Aku adalah putra kandung Surya. Benihku jauh lebih murni untuk memenangkan tahta itu daripada benih Hendra yang bahkan tidak jelas asalnya. Bukankah kita sudah punya sejarah?”