LORO
"Dia selalu menungguku di tepi danau. Kami selalu menyempatkan waktu duduk di tepi jembatan. Di sana, kami setia menanti matahari terbit."
Zahra heran masih ada kebiasaan kuno seperti itu. "Norak," komentarnya.
"Norak itu apa?"
"Serius, enggak tau?"
Bumyen menggeleng. Zahra melongo melihat kaum manusia yang tidak tahu apa itu norak. Padahal, walau Bumyen memakai logat Melayu ia tetap mengerti apa yang disampaikan masing-masing pihak.
"Emm, norak itu kayak terlalu berlebihan dalam menampilkan sesuatu. Gitu sih, menurut aku."
Hot Chapters