RUANG AJAIB JURAGAN FIKRI
Itu saja.
Keesokan harinya, ia naik ke Bukit Banyu Petak, tempat di mana pohon apel legendaris itu tumbuh. Perjalanan melewati kabut tebal dan deru angin yang aneh, seperti suara-suara berbisik dari masa lalu. Di puncak bukit itulah ia melihatnya—pohon besar dengan daun mengilat dan buah menggantung yang menyala merah keemasan dalam cahaya matahari. Tapi di depannya berdiri seorang lelaki tua berjubah hijau kusam, mata tajam seperti elang dan tongkat kayu berduri. "Kau datang untuk mengambil buah terlarang?" tanya pria itu dengan suara rendah namun bergema. Fikri menunduk hormat, lalu berkata, "Aku datang untuk meminta izin menanamnya di tempat yang tidak biasa. Aku punya lahan, bukan tanah
Hot Chapters