Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Ikut aku ke kantor, ya. Ada lowongan buat OB, baru saja dibuka. Bawa saja surat lamaran seadanya, tulis tangan juga tidak apa-apa. Bawa fotokopi KTP kalau ada. Nanti aku bantu kasih ke bagian HRD.”
Joko masih memproses. Besok? Kantor? Interview? Semuanya terasa begitu cepat, begitu tiba-tiba.
Rani seolah bisa membaca kebingungannya. Ia tersenyum lagi. “Nggak usah banyak tanya sekarang. Yang penting siapkan saja apa yang aku bilang tadi,” katanya. “Jam tujuh pagi, kamu sudah harus siap di sini. Nanti kita berangkat bareng. Mengerti?”