Penyamaran CEO Tanaka
Mata Maya bergerak mengikuti tiap baris, dan setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris perlahan.
“Maaf, bukan karena aku tak ingin bertahan, tapi karena aku tak pantas di sini.”
Begitu membaca kalimat itu, suaranya pecah.
Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan.
Ia menjatuhkan diri ke kursi, memeluk surat itu seolah memeluk seseorang yang sudah tak akan pernah kembali.
Tangisnya pecah tanpa suara — tangis kehilangan yang bukan karena perpisahan, tapi karena cinta yang lahir di tempat dan waktu yang salah.