Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Days to Remember

Days to Remember

Kenapa menyalahkanku? "Nana." Riski juga datang dengan tergesa-gesa entah dari mana. "Pekerjaan kamu sia-sia, Na, karya kamu sudah diakui orang lain," ungkap Ani menyela Riski. "Iya, ternyata Icha. Icha yang sudah ngaku-ngaku kalau itu puisi buatan dia. Itu pasti demi nilai, kecil-kecil udah jadi ular," ujar Riski, yang sudah tahu fakta puisi itu. Berkat Ani yang tak sengaja ember ke Tri.
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

*** Rasa Aku berkelana melewati rimba aksara, menembus lebatnya kata Aku berenang dalam kubangan gelap dan terangnya pikiran Mencari rasa yang sepat singgah pada manik jiwa Terbang mengikut angin berhembus sampai akhirnya leyap pada batas nyata Luka hanyalah setitik duka yang tersirat dalam kisah semesta Aku pun pergi pada cinta, kuiklaskan diri dalam rengkuhnya Cumbuannya membangkitkan gelora hasrat jiwa, hadirkan selaksa bahagia ** Jadi lagi satu puisi, coba up lagi di medsos. Siap dikritik, daripada harus diam menunggu kabar dari manusia yang mulai menghilang dari peredarannya. [Ta,] Kenzo mengirim pesan [Uyy, dapa, Ken?] [Sibuk 'gak?] [Gak, kenapa?]
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 143 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Love, Lies, and The Price of Desire

Love, Lies, and The Price of Desire

Kakinya sedikit bergoyang ketika berkomentar. “Tidak, tidak. Kritik mode seharusnya apresiasi yang obyektif–informatif, menginspirasi.” Miriam lalu mencodongkan tubuhnya ke depan. “Yang kulihat belakangan lebih seperti pertunjukan gladiator." “Touché.” Colette menatap Miriam penuh arti. "Bukan berarti kau tak menikmati itu, bukan?" "Oh, tentu aku menikmatinya," Miriam menyeringai. "Aku hanya takkan berpura-pura itu kritik intelektual."
1.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
I WAS NEVER YOURS

I WAS NEVER YOURS

Ingat prinsip emak : penulis yang haus kritik. Mohon, sekiranya ada yg kurang atau berkenan. Terima kasih. Have a nice day. Kiss and hugs!
1026.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 730 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Atas Nama Pohon Suci

Atas Nama Pohon Suci

Oleh sebab itu, dia paham betul bagaimana bertahan hidup lintas zaman. "Enak gimana? Mengkritik bisa hilang,” timpal Cak Contong. "Ya, bisa-bisa dicor dibuang ke laut,” sahut Cak Lamis. "Itu kan yang mengkritik, yang narik becak, ya aman-aman saja," balas Cak Kamid. “Insya Allah.”
105.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 172 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran

Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran

"Puisi, karya sastra yang mengungkapkan perasaan, isi hati, dan juga pikiran. Juga bisa diambil dari sebuah pengalaman hidup. Puisi sebuah syair yang mengandung makna.” Para siswa memperhatikan Guru yang menjelaskan tentang puisi. Guru juga membacakan beberapa puisi, tentang perjuangan seorang jenderal dan juga puisi tentang romansa. Setelah menjelaskan tema pelajaran hari ini, Guru menutup bukunya. "Sekarang giliran kalian. Ambil kertas, dan kuas." Guru kembali ke mejanya. "Tulis satu puisi. Temanya tentang perjuangan.”
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Di Ambang Gila

Di Ambang Gila

"Tapi disengaja. Itu bukan kekacauan karena ketidakmampuan, tapi sebuah representasi dari kekacauan internal. Setiap goresan punya maksud. Setiap percikan cat adalah sebuah letupan emosi yang terkontrol dengan buruk." Ares terdiam sejenak, terkejut. Kebanyakan orang memuji "energi"-nya atau "keberanian"-nya. Tidak ada yang pernah menggunakan kata "terkontrol dengan buruk" dengan nada yang begitu klinis, seolah-olah sedang mendiagnosis. "Kau seorang kritikus seni?" tanyanya, mengejek. "Seorang peneliti," balas Elara. Matanya tak lepas dari mata Ares, mempertahankan kontak yang membuatnya tidak nyaman. "Aku mempelajari pola. Perilaku. Emosi."
1.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Cinta Dalam Tiga Luka

Cinta Dalam Tiga Luka

Ia menatap setiap mahasiswa dengan lembut, memberikan ruang untuk mereka berpikir, merespons, dan menelusuri makna yang lebih dalam dari sekadar barisan kata. "Menurut saya," ujar seorang mahasiswi di barisan tengah, "puisi itu seperti lemari tua, ada banyak rahasia yang disembunyikan dalam tiap lacinya. Kita hanya bisa membuka satu-satu kalau kita cukup sabar."
1.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Dikejar Lagi oleh Istri CEOku

Dikejar Lagi oleh Istri CEOku

Orang biasa seperti mereka tentu merasa terhormat karena berkesempatan untuk melihat puisi karya Kaisar. "Eh, aneh, kenapa ada 2 marga di bawah puisi ini?" tanya seseorang tiba-tiba. "Pertanyaan bagus." Alarik meletakkan kedua tangannya di belakang punggung sambil menjelaskan dengan sombong, "Puisi ini memang karya Kaisar, tapi yang menulisnya adalah tokoh besar lainnya. Makanya, ada 2 marga di sana. Tentunya, ini berarti Kaisar sangat menghargai orang itu."
8.83.6M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83.6K kali sebagai puisi kritik
Tampilkan Ulasan (736)
Baca
+Pustaka
Panessa Selvia
TAMAT. jadi mnurut kesimpulan saya. luter ditingkatan transendensi roh(tingkatan paling atas kultivasi) sudah ga yg ngusik lagi, sudah bagaikan dewa. makanya dibuat hidup tenang diakhir crita. tpi masih gantung, ayahnya di atlandia masih hidup/wafat? dan Bianca tau GK luter=Gerald Bennet?
Adelia
Ijin promosi novel judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku
Baca Semua Ulasan
My Beloved Partner

My Beloved Partner

Puisi itu berbunyi: Di antara sejarah dan darah pahlawan, Ada degup yang tak bisa kuabaikan. Tak ada merah putih di dadaku selain wajahmu yang selalu tenang. Untukmu, guru berjas abu-abu… Pak Taka mengernyit. “Ini puisi... romantis?” Laras maju ke depan dengan cepat, “Itu... karya fiksi, Pak! Kami mau menunjukkan bahwa nasionalisme bisa disisipkan dalam bentuk rasa cinta!”
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 91 kali sebagai puisi kritik
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status