Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia
“Aku paham, dan aku setuju. Kritik memang tanda keterlibatan. Justru itu yang membuatku terus mawas diri. Aku tidak ingin merasa paling benar. Setiap ulasan, bahkan yang paling tajam sekalipun, bisa jadi cermin. Dari sana aku belajar melihat apa yang luput, apa yang perlu diperbaiki. Jadi bukannya melemahkan, kritik justru menguatkan langkahku.”
Sita menatapnya lama, lalu tersenyum dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Kau tahu, itu yang membuatku kagum. Banyak orang bisa menulis, tapi tak semua bisa menjaga jiwanya tetap jernih saat karyanya ditafsir macam-macam. Kau seolah punya ruang sendiri, yang tenang, tapi tetap terbuka. Itu... luar biasa, Kang.”
Hot Chapters