Oji dan Tije
Dan ia, akan meminta bantuan ku untuk membuat puisi yang aku yakin ia pasti kerepotan untuk memilah-milah kata dengan diksi yang indah.
Aku dan Oji saling tatap. Sepertinya, aku ataupun ia tak ingin memulai duluan. Gengsi kami sama tingginya.
"Soal matematikanya susah banget," aku berujar dengan ekor mata yang melirik kearahnya.
Ia tak mau kalah, "Aduh, paling malas merangkai kata-kata,"
"Gimana ya ini ngerjainnya? Dikumpulin besok lagi," aku masih berbicara dengan ekor mata yang meliriknya.
Bab Populer