Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

*** Rasa Aku berkelana melewati rimba aksara, menembus lebatnya kata Aku berenang dalam kubangan gelap dan terangnya pikiran Mencari rasa yang sepat singgah pada manik jiwa Terbang mengikut angin berhembus sampai akhirnya leyap pada batas nyata Luka hanyalah setitik duka yang tersirat dalam kisah semesta Aku pun pergi pada cinta, kuiklaskan diri dalam rengkuhnya Cumbuannya membangkitkan gelora hasrat jiwa, hadirkan selaksa bahagia ** Jadi lagi satu puisi, coba up lagi di medsos. Siap dikritik, daripada harus diam menunggu kabar dari manusia yang mulai menghilang dari peredarannya. [Ta,] Kenzo mengirim pesan [Uyy, dapa, Ken?] [Sibuk 'gak?] [Gak, kenapa?]
104.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 123 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Para Pencari Kunci

Para Pencari Kunci

“Aku menang, Pedro mati, semuanya mati, hanya aku yang menang. Ini takdir. Tuhan sudah mengukir.” Aku kian memangkas jarak. Dan mulailah terlihat kenop Bilik yang berdebu. Aku menarik Kunci sembari mengingat-ingat sebuah puisi karangan penyair yang namanya tak kusimpan. “Biarkan aku mati dengan tenang karena bulan tak selalu senang kehadiran pemenang yang haus akan kenangan. Karena bulan sungkan menjadi penenang antara aku dan cenayang.”
3.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Mertuaku Adalah Maut

Mertuaku Adalah Maut

Ngigau nyebut nama perempuan lain. Erika nggak marah. Dia nggak teriak. Dia cuma senyum. Senyum paling dingin yang pernah ada. "Sekali menikah, aku tak mau bercerai," bisiknya. "Kalau aku nggak bisa dapetin hati kamu, Arga... mending kita sama-sama ke neraka Kamu gak akan pernah bisa sama Hesti selamanya kecuali maut memisahkan!"
103.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 127 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Suamiku Menikahiku Karena Aku Akan Mati

Suamiku Menikahiku Karena Aku Akan Mati

ucap Adrian dengan nada rendah yang rendah yang menggoda sekaligus berbahaya. "Daripada kau mati sia-sia seperti ini, bagaimana kalau kau habiskan sisa hidupmu dengan menjualnya padaku?”
10692 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Jangan Jadikan Aku Babumu, Dik!

Jangan Jadikan Aku Babumu, Dik!

POV Arman Malam... Merupakan waktu menunggu datangnya pagi. Di mana semua rasa sudah berkumpul. Entah itu rindu, sedih, tangis, marah, sepi, atau penyesalan. Dan, aku masih berperang untuk semua rasa itu. Disaat, semua terlelap. ☘️☘️☘️ Semenjak kepergian Mayang dari hidupku. Membuat duniaku, benar-benar hancur dan juga hampa. Hidupku terasa hambar, tanpa gadis berparas ayu dan juga tangguh itu.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Mayat di Atas Ranjang

Mayat di Atas Ranjang

Ki Gendeng menjawab malas. “Apa begini ini rasanya dikubur dalam tanah? Enggak bisa merasakan apa-apa, enggak bisa melihat apa-apa, enggak bisa mendengar apa-apa selain omonganku sendiri dan omonganmu? Atau jangan-jangan suaramu itu hanya khayalanku saja? Atau jangan-jangan sebenarnya aku ini sudah mati, tapi enggak sadar kalau sudah mati? Ki Gendeng, apa kamu tahu rasanya mati?”
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 85 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

Kalimat yang kutulis ringkas, padat, dan menusuk: Aku adalah puisi yang hanya bisa dibaca, Bukan untuk disentuh jari-jari dunia. Namaku: Harga Diri. Tempatku: Keheningan yang sunyi. Di sinilah aku, tak bertamu, tak menemui. "Ck.. ck.. Aku kira puisi dahsyat apa, ternyata cuma begitu? Biasa saja," cibir Bonaga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tampak cemas, takut kalau-kalau puisi sesingkat itu akan ditolak mentah-mentah dan membuat kami jadi bahan tertawaan seisi ruangan.
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
SEHARUSNYA KAU IKUT MATI

SEHARUSNYA KAU IKUT MATI

Wussshhhh Tubuh Ayu yang kecil itu tiba-tiba melayang secara perlahan, kakinya yang mungil kini terangkat dari tanah yang penuh akan semak-semak dan daun-daun kering yang ada disana. Kedua tangannya terlihat terkepal, bersamaan dengan asap hitam yang muncul secara tiba-tiba, mengelilingi tubuhnya dan berputar secara perlahan di udara pada saat itu. “RASA TAKUT DARI ORANG MEMBAWAKU YANG AKHIRNYA MATI DAN MEMBIARKAN AKU ADA DISINI.” HAHAHAHAHA “LARI ADIIII, LARIIIII, TIDAK ADA TEMPAT UNTUKMU UNTUK BISA HIDUP HINGGA MATAHARI TERBIT ADII.”
1027.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Aku Hampir Mati di Pesta

Aku Hampir Mati di Pesta

“Sadarlah, walaupun kamu mati di tangan kami, juga tidak akan ada yang datang menyelamatkanmu!” Tubuhku mengeluarkan peringatan terakhir, aku terus bergemetar dan ambruk dengan keringat dingin di tubuhku. Tepat ketika aku putus asa dan memejamkan mata, sebuah raungan kemarahan terdengar di telingaku, itu adalah suara yang sangat familier bagiku. “Beraninya menindas putri Royce, akan kubunuh kalian!”
8.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 353 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Karena Nafkah, Istriku Mati Rasa

Karena Nafkah, Istriku Mati Rasa

Dia mengeluarkan seluruh sakit hatinya. "5 tahun kamu nggak berkunjung, Dara! Sekalinya kamu datang papamu sudah meninggal. Puas kamu sekarang, kan? Mama cuma berdo'a supaya mama cepat mati biar kami nggak menjadi beban untukmu lagi." Andara hanya menangis mendengar kemarahan ibunya. Ia tahu jika Astuti sangat kecewa.
109.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 286 kali sebagai puisi mati rasa
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status