Aku yang tak mengerti cinta
Aku susah payah untuk menulisnya, pulpen yang hampir sekarat dan tidak muncul tinta pada kertas, perjuangan akan menulis sebanding dengan perjuanganku untuk hidup.
Aku merasa senja tak lagi menyenangkan seperti dulu, sawah berlantaran dan dihiasi awan merah yang menyala, seharusnya itu bagus, tapi ini buruk. Aku sudah muak menyaksikan alam yang tak bersahabat dengan jiwaku. “Ibu … seperti awan ini, aku benci senja yang seram penuh dengan nyala. Semua lingkaran kabut menyuguhkan jiwa Ibu. Bisakah segera malam saja ….”
“Siva …,” Leo tiba-tiba berada di belakang. “Kamu kenapa ke sini? Sebentar lagi malam, ayo pulang!”
ตอนยอดนิยม