Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR

TANIA Gadis di bawah terang rembulan pada sebuah malam di taman todongan cinta mengancamku bangku taman saksinya Engkau kini mengembara dalam ingatanku tak kuasa lagi aku meronta menahannya Bila rembulan mengizinkan dan malam merestui kuingin kau disini malam ini agar kukisahkan pada dunia aku memulai kisahku disini - bersamamu Aku yang mengagumimu - Mike Mike tersenyum kecil. Ia menyalakan pemantik api lalu membakar ujung - ujung kertas agar menghasilkan selembar kertas puisi yang menakjubkan. Ia meletakkan kertas yang sudah ia bakar itu ke atas mejanya. Mike kemudian berdiri menjauh dari mejanya, berjalan menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu kembali lagi dan merebahkan tubuhnya.
103.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 90 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Suamiku, Ayah Mantanku

Suamiku, Ayah Mantanku

Paksu || Kangen (´༎ຶ ͜ʖ ༎ຶ `)♡ Paksu || Pingin pulang tapi jauh Paksu || Sayangku, aku kirim PAP Paksu || *gambar* Paksu || Ganteng kan aku? Paksu || Sayangku.... Paksu || Sayangku cintaku padamu, Lyraku(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
10107.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.2K kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

Dan tak henti-henti dalam doa ku Ku sebut namamu Berharap semua ajan baik-baik saja Meskipun dalam menjalaninya Harus ada sakit yang aku terima Dan harus ada cambukkan luka Hingga terkadang Aku begitu terpuruk Dalam mempertahankan ini semua Dan aku begitu lemah karena terluka Namun meskipun demikian Akan ku jalani dengan ke ikhlasan Sampai ada masanya Hubungan ini sampai pada titik kepastian Titik dimana Aku dan kamu menjadi satu keluarga Dan hidup bersama Menjadi sebuah kebahagiaan yang utuh Menua bersama Menyaksikan anak cucu kita bertumbuh Menjadi kisah sejarah Yang kan kusimpan hingga akhir hayatku Kusuguhkan bait-bait diksi itu teruntuk Kenzo tersayang, ehhh dia ternyata bales puisiku p
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 156 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Menunggu Bulan

Menunggu Bulan

*** Puisi Kerinduan *** Kurangkai sebait puisi sederhana Tempatku menuangkan segala asa Kupersembahkan khusus untukmu Wahai ... sang pemilik rindu Di sini ku terdiam Terbelenggu tabir hitam Entah kapan engkau datang Membawa secercah harapan Wahai ... sang Bayu Cukuplah engkau bersamaku Mendengarkan nyanyian pilu Dari jiwa yang terpaku Walau lelah Walau payah
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 78 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
A different soul 2

A different soul 2

Manakala hati Menggeliat mengusik renungan Mengulang kenangan Saat cinta menemui cinta Suara semalam Dan siang seakan berlagu Dapat aku dengar Rindumu memanggil namaku Saat aku tak lagi di sisimu Kutunggu kau di keabadian Aku tak pernah pergi Selalu ada di hatimu Kau tak pernah jauh Selalu ada di dalam hatiku Sukmaku berteriak Menegaskan kucinta padamu Terima kasih pada Mahacinta Menyatukan kita
109.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 289 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Cinta di Balik Singgasana

Cinta di Balik Singgasana

katanya, suaranya lembut. Ia meraih kain kecil dari pakaiannya. Puisi pendek tertera di sana, ditulis dengan aksara halus Di tepi kolam, bawah ketapang tua, Hati kita bebas, meski dunia menutup. Jika takdir memisah, di bukit ‘kan kutunggu, Dengan melati dan kenanga, untukmu selalu. Raka membaca puisi itu. Jantungnya berdegup keras. “Ini… indah, Gusti,” katanya, suaranya serak. “Aku simpan ini, sebagai pengingat.”
867 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Istri Galaknya Om CEO

Istri Galaknya Om CEO

Haidar chat kasih puisi: Wanitaku, Sayang! Rahim yang Kugali Kini Telah Tertali Aduan Nafsu Menganga Doa dan Cinta pun Berbunga Tubuh yang Kuraba Kini Hangatnya Mengaba Tersingkir dari Angin Membunuh Gemuruh Dingin Qobiltu yang Menjadi Janji Kini Telah Kuhempas dari Ruji Menjemput Pagi
105.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 174 kali sebagai puisi temanku
Tampilkan Ulasan (45)
Baca
+Pustaka
Laras_7779
Nurilhuda, Syamsiddhuha, Badridduja, kembar tiganya Abi Ibu yang pengen aku bawa pulang. Kakak Uda pinter bikin salting, Abang Uha vibesnya bawa ketenangan, Adik Uja si paling nggemesin sedunia. Lengkap deh kalian ini
Arsyi An
Cinta banget baca novelnya Kak Azizah. Dewasanya Haidar menggemaskan, ia menasihati, tapi juga intropeksi. Part favoritku: Wanita itu rumah untuk lelakinya. Rumah akan rapi jika yang punya peduli, rumah akan nyaman jika yang punya beriman, rumah akan terang jika yang punya tak lupa kasih sayang
Baca Semua Ulasan
Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku

Lagian, kenapa mereka kenapa harus suka kepada suami orang, sih? "Aku pulang dulu ya? Maaf aku tak bisa lama-lama. Takut Mas Fajar pulang," ucapku pamit. Dua temanku itu justru terlihat saling berpandangan. Tawa kecil terbit di wajah mereka. Padahal tak ada hal lucu yang aku ucapkan. Apa ada sesuatu yang aneh padaku? Aku memindai penampilanku, tak ada yang salah meski sedikit tak sesuai dengan lokasi tempat kami berada.
101.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 57 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Teman Tapi Panas

Teman Tapi Panas

Ana bertanya lagi, suaranya kini bergetar karena wajah Andi yang mendekat hingga Ana bisa mencium aroma pasta gigi yang tadi dikenakan Andi. "Kita tetap temenan. Teman di depan orang-orang, teman yang saling bantu, termasuk bantuin buat nemuin pelepasan masing-masing." Andi menyelesaikan kalimatnya lalu mencium leher Ana membuat gadis itu mendongak. "Kamu nggak perlu memberikan label, kita cukup jadi teman, termasuk teman di ranjang." Andi mendorong Ana hingga gadis itu berbaring dan dalam sekejap ia sudah berada di atas Ana.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 131 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Teman Tidur Suamiku

Teman Tidur Suamiku

Jalanan yang ia hafal di luar kepala kini terasa asing, setiap tikungan seolah membawanya lebih dekat ke sebuah jebakan yang telah disiapkan dengan rapi. Rumah ibunya menyambut dengan aroma yang sama seperti biasa. Campuran wangi teh melati dan minyak kayu putih. Elia duduk di kursi rotan kesayangannya di teras, mengenakan daster batik, terlihat lebih segar dari suaranya di telepon. Sebuah pertunjukan kelemahan yang sempurna. “Akhirnya pulang juga anak Ibu,” sapanya, suaranya terdengar manja.
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 114 kali sebagai puisi temanku
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status