RUMAHKU ADALAH KAMU
“Ambil waktumu. Aku di sini, apa pun keputusanmu.”
Aira menatap Arsen, lalu tersenyum kecil. “Makasih, Sen.”
Malam kembali jatuh dalam hening. Kali ini, sunyi itu tidak sekadar kosong, melainkan berat dan rapuh, seperti menahan sesuatu yang belum berani diucapkan. Di antara kelelahan dan ketakutan, ada kemungkinan yang menakutkan, tetapi juga diam-diam menjanjikan.
Hot Chapters