Tiga Mayat Satu Takdir
gumamnya, suaranya rendah tapi tegang.
Slime kecil itu merayap di depan, tubuhnya seukuran kepalan tangan bergoyang pelan, meninggalkan jejak licin di lantai. Setelah beberapa menit, lorong membuka ke ruang yang lebih luas—**tengah-tengah lorong raksasa**, dikelilingi **rak buku setinggi langit**. Rak-rak itu terbuat dari kayu tua yang berderit, penuh buku dan artefak kuno, tapi mereka bergerak dan berubah bentuk seperti makhluk hidup—susunan rak bergeser, lorong-lorong baru muncul dan lenyap, seolah perpustakaan itu bernapas. Cahaya hijau dan biru dari lendir di langit-langit memantul di rak, menciptakan bayangan yang menari-nari di lantai batu yang retak.
Bab Populer