Ada sesuatu yang sangat memikat tentang bagaimana 'Revenge of Others' mengurai motif di balik pembunuhan dengan lapisan emosi yang kompleks. Aku selalu terkesan dengan cara cerita ini tidak hanya sekadar 'balas dendam karena sakit hati', tapi benar-benar menyelami trauma psikologis yang dalam. Korban pembunuhan awalnya tampak seperti kasus bullying biasa, tapi perlahan terungkap bahwa ada konspirasi lebih besar—sistem sekolah yang tutup mata, orang dewasa yang gagal melindungi, dan tekanan sosial yang menghancurkan identitas individu.
Yang bikin gregetan, motif utama pembunuhnya justru berasal dari perasaan dikhianati oleh sistem yang seharusnya adil. Pelaku bukan hanya membunuh sebagai bentuk kemarahan, tapi lebih sebagai pernyataan: 'Jika tidak ada yang mendengar suaraku, aku akan buat mereka mendengarnya dengan cara ini'. Aku pribadi melihat ini sebagai kritik tajam terhadap budaya bisu di masyarakat, di mana korban sering dipaksa diam sampai akhirnya meledak dengan cara tragis. Adegan-adegan simbolis seperti pengulangan adegan 'jatuh dari ketinggian' juga memperkuat tema kehilangan kontrol atas hidup sendiri.