Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Matanya terkunci pada mataku, membuatku tidak bisa berpaling.
Lalu, dia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah ujung lorong yang gelap di sisi lain Penthouse. Di sana, ada sebuah pintu ganda berwarna hitam pekat. Satu-satunya pintu yang berbeda warnanya di rumah ini.
"Itu kamar saya," ucapnya.
Aku menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa.
"Jika kamu butuh sesuatu... atau jika kamu sadar betapa mahalnya harga yang saya bayar untuk kamu malam ini..."