Putriku Kelaparan di Rumah Mewah Suaminya
Warga desa pun bubar, begitu juga dengan tukang yang membuat balai-balai yang sangat cocok buat tempat nongkrong.
“Kamu suka, Alin?” tanya Bapak sambil menuntunku menuju balai-balai.
“Ya sukalah, Pak. Ini bagus banget. Sebenarnya sudah adem karena ada pohon mangga di atasnya, tapi kalau pakai atap, makin adem,” ujarku, duduk di salah satu sisi lantainya.
“Iyalah. Kalau tidak dipakai atap, bisa kehujanan dan kejatuhan mangga pula nanti putriku yang cantik ini.”
Hot Chapters