Dendam Sang Biduan
Airlangga memperdengarkan suara yang sudah diperhalus sehingga menajamkan kalimat yang terekam.
Kau, harus mati!
Suara itu terdengar begitu cepat dan lirih lebih mirip gumaman hingga telinga Raksa tidak terlalu bisa memahami.
"Kita dengarkan sekali lagi," Airlangga melambatkan rentang waktu, mengeraskan suara.
Kau, harus mati!
"Bagaimana menurutmu?" Raksa bertanya pada dua rekannya.
Dian mengusap tengkuknya. "Jujur, saya merinding. Suara ini seperti bukan suara manusia, ini seperti suara …,"
Bab Populer