Dinodai adiknya, dinikahi kakaknya
Asap tipis naik, menyentuh wajahnya, memberi rasa nyaman yang sesaat menenangkan, tapi tak cukup untuk mengusir hawa dingin yang justru berasal dari dalam dirinya sendiri.
Di tengah keheningan sore itu, ia mendengar suara langkah dari dalam rumah. Suara itu berirama pelan, namun jelas, berpadu dengan bunyi papan lantai yang sedikit berderit. Langkah itu terlalu ia kenal—teratur, berat, seolah setiap pijakannya dipikirkan matang-matang. Seperti seseorang yang sedang menimbang kata demi kata sebelum akhirnya diucapkan.
Hot Chapters