SUAMIKU SAINGANKU
suaraku nyaris berbisik, sementara mataku tetap terpaku pada sosok Arga yang perlahan mendekat.
Arga berhenti beberapa langkah di depan kami, lalu mengangkat payungnya sedikit, memastikan aku bisa melihat wajahnya. "Rilla," katanya dengan nada tenang namun dingin, "ayo pulang."
Aku menelan ludah, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba menjadi canggung ini. Elang masih berdiri di sisiku, tangannya memegang jaket yang melindungi kepalaku. Sementara Arga, seperti biasa, tampak mengendalikan segalanya.
Sikat na Kabanata