Kelir Getih (Layar Berdarah)
“Ayah saya tidak menulis ‘kritik’, Kompol. Ia menulis ‘pemurnian’. Kata itu muncul berulang kali dalam beberapa draf suluk yang lain. Ia percaya, kesenian wayang bukan lagi sekadar pelipur lara, tapi harus menjadi ‘api penyucian’ untuk membersihkan dosa-dosa para Kurawa modern yang merajalela. Ia menggambarkan mereka sebagai 'bayangan hitam yang menari di atas panggung kehidupan', 'menghisap sari pati kebenaran', dan 'menukarkan nurani dengan permata palsu'. Ini bukan sekadar pandangan kritis; ini adalah seruan untuk tindakan ekstrem. Sebuah filosofi yang, jika diinterpretasikan secara harfiah oleh orang yang salah … bisa menjadi sangat berbahaya.”
“Pemurnian?” Kirana terdiam sejenak lagi, t
Hot Chapters