Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
Itu yang selalu diucapkan Bu Rena ketika aku berpamitan.
Langkahku terasa ringan menyusuri trotoar, lalu gang-gang. Tinggal di pusat kota Semarang, tetapi bukan di perumahan.
Hatiku ngilu saat melihat Rahma duduk di teras sendirian. Dia sama sekali tidak putus harapan tentang Ibu. Dia percaya Ibu akan pulang.
"Rahma ... masuk, hari udah mulai gelap."
Rahma memandangku sayu. "Kamu tahu Mbak? Aku tadi melihatmu sebagai Ibu, karena wajah kalian mirip ...."