Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Mati Satu Tumbuh Seribu

Mati Satu Tumbuh Seribu

Semua barangnya hampir laku dalam sekejap. "Sial, orang-orang apa sudah buta, ya? Bisa-bisanya mereka tertipu?" Wita menggelengkan kepala, dia membelalakkan mata tidak percaya. Mungkin bukan karena mereka buta ... tapi karena terbawa perasaan sendiri. Jumlah penonton siaran langsung Rani makin bertambah, dia terus mendapatkan banyak hadiah. Dia mungkin sudah menghasilkan banyak uang hanya dalam waktu satu jam.
8.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 220 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
Tumbal Purnama

Tumbal Purnama

"Gerbang itu bukan akhir. Itu adalah awal." Tumbal Purnama Lila dan Bima melangkah dengan hati-hati, menggenggam erat Arga yang masih menggeliat di pelukan ibunya. Dunia di dalam Pohon Leluhur terasa seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Suara langkah mereka bergema di lorong akar yang seperti tidak berujung, dan setiap sudut terasa mengawasi mereka. “Bima, dengar…” bisik Lila sambil memeluk Arga lebih erat. “Kau dengar suara itu?”
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

“Satu pohon, dua nama. Tapi akan tumbuh ke atas dan ke bawah.” Pohon itu diberi nama Rinta-Talu—gabungan dari kata “rintik” (hujan) dan “talu” (akar panjang yang mendengar suara bumi). --- Dan ketika fajar datang, perkemahan tak lagi tampak seperti perkemahan. Ia punya pusat, punya ruang, punya nama, dan di atas segalanya—punya arah. Akarlangit telah tumbuh. Belum besar. Belum kuat. Namun telah hidup.
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 44 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
Tumbal Bulan Suro

Tumbal Bulan Suro

keluh Sutini. "Tak perlu pusing soal itulah, Tin. Walaupun warung kita sepi, tapi harta kita kan tetap berlimpah." Mendengar jawabanku Sutini malah langsung menatapku tak senang. "Kamu lupakah, Bang? Untuk terus dapat harta yang berlimpah kita harus terus cari tumbal. Sekarang bulan suro sudah mau habis, sedangkan tumbal kita kurang dua lagi."
104.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 172 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
Lembah Awan Berkabut

Lembah Awan Berkabut

Bukan kepuasan dari menanamkan rasa takut, tetapi kepuasan dari melihat seseorang benar-benar berkembang karena bimbingannya. Sore harinya, mereka berjalan-jalan di dekat Mata Air Spiritual. Di tepiannya, tumbuh rumpun Anggrek Cermin Jiwa yang indah, yang kelopaknya memantulkan cahaya biru dari air. Salah satu kuntumnya tampak sedikit layu, batangnya terkulai.
1.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 43 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
LALI

LALI

Di surau itulah Asih selalu mempasrahkan hubungannya dengan sang kekasih. Jam berlalu dengan cepat. Jam beker di meja sebelah tempat tidurnya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun matanya masih saja bersinar terang. Tak seperti biasanya. Di jam-jam seperti sekarang ini sudah mulai terasa berat. Matanya menerawang jauh. Di tatapnya plafon kamar yang juga terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai di penuhi dengan kukus gantung. Ternyata, ingatan Asih belum puas dengan kejadian tadi sore. Mungkin malam ini ia akan membayar tuntas perihal ingatan tersebut. Tanpa sadar, bibir mungilnya kembali tersenyum. Matanya semakin memancarkan kebahagian yang tersembunyi begitu dalam. Ia bangun dari
106.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 130 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
Lemari Mencari Tumbal

Lemari Mencari Tumbal

“Emm… Itu namanya Begu Ganjang. Gatau deh, mengapa dia bisa ada disini. Padahal, sosok itu kan tinggal di daerah Sumatera utara ya? Emm… Entah lah… Nah, kalau kamu bertemu sosok itu, jangan memandanginya semakin ke atas, kamu tidak akan bisa melihat ujung dari ketinggian dari sosok itu. Karena, ketika kita memandangi nya semakin ke atas, maka sosok itu akan menjadi semakin tinggi, semakin tinggi dan semakin tinggi. Itu sebabnya tadi aku menundukkan kepalamu kebawah.” “Oh begitu, pantas saja tadi sosok itu semakin ku pandangi ke atas, sosok itu semakin tinggi. Emm… Kalau ada layangan yang tersangkut atau mau mengambil buah-buahan, bisa juga nih minta tolong ke dia, hahaha” “Hahaha… Ada-ada sa
1010.5K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 397 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
Kultivator Tangguh

Kultivator Tangguh

Klontang. Kakek Segala Tau, setiap selesai bicara, membunyikan kaleng rombengnya. Swhuusss.... Whuung.... Klontang.... Klontang.... Sebuah cahaya putih kebiruan melesat terbang dari dalam lembah, diiringi oleh gemuruhnya angin puting beliung dan bunyi suara kaleng rombeng.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai tumbuhlah
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status