Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
ujar fotografer.
Anindya mengangguk. Dia berdiri, memutar sedikit bahunya, menata kembali rambutnya, lalu menatap kamera. Kali ini, dia tidak berpikir apa pun. Tidak tentang rumah sakit, tidak tentang Ivelle, tidak juga tentang Arvendra. Hanya dirinya, napasnya, dan cahaya yang jatuh di wajahnya.
Klik!
“Done! Good job, Laranya!”