Rayuan Maut Para Tetanggaku
katanya, lalu menyerahkan dua amplop tebal berwarna cokelat tua.
“Apa ini, Mbak?” tanyaku, merasa ada yang tidak beres dari ketebalan amplop itu.
“Buka saja,” pinta Mbak Dini.
Aku membuka amplop itu dengan perlahan, diikuti oleh Ardi. Mataku terbelalak melihat isinya. Ardi hampir menjatuhkan amplopnya.
Di dalam amplop itu, bukan hanya lembaran ucapan terima kasih, melainkan uang tunai yang ditumpuk rapi.