Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan
Alex duduk di sofa, tubuhnya tegap, wajahnya datar, namun ada senyum tipis smirk yang menusuk, senyum yang bukan untuk menyambut, tapi menandai dominasi, pengingat bahwa wanita hanyalah objek, bisa dimiliki, dan bisa dihancurkan.
“Baik, Tuan,” ucap gadis itu, suaranya pelan, menunduk sebentar sebelum perlahan melepaskan dressnya. Pakaian itu jatuh ke lantai, meninggalkan tubuhnya hanya dalam dalaman. Ia menatap Alex, mencoba membaca ekspresi yang tetap dingin, seolah tak ada apa-apa yang bisa menggoyahkan pria itu.