Ada sesuatu yang menyejukkan tentang wanita sholehah dalam Islam. Mereka seperti taman yang teduh, di mana ketenangan dan kekuatan tumbuh berdampingan. Ciri utamanya adalah ketaatan kepada Allah yang terwujud dalam ibadah konsisten, seperti shalat tepat waktu dan puasa sunnah. Tapi bukan sekadar ritual, melainkan juga akhlak. Aku selalu kagum pada kemampuan mereka menjaga lidah dari ghibah, mata dari pandangan haram, dan hati dari iri. Mereka adalah ahli 'emotional labor' yang sesungguhnya—mengelola amarah dengan sabar, merespons kekerasan dengan kelembutan.
Yang menarik, kesalehan mereka justru membuatnya semakin rendah hati. Tidak perlu pamer jilbab branded atau rekaman tilawah di media sosial. Kesholehannya terasa dalam hal-hal kecil: cara memperlakukan tetangga, mendidik anak tanpa teriak-teriak, atau bahkan keteguhannya memilih hijab syar'i di tengah arus mode. Seperti kata pepatah Arab, 'Surga di bawah telapak kaki ibu'—wanita sholehah itu membawa berkah ke mana pun ia pergi.