Membaca 'ROMA: Con Amore' itu seperti menyelam ke dalam kolam nostalgia yang dipenuhi dengan percikan drama, romansa, dan intrik politik. Novel ini mengisahkan perjalanan Aurelia, seorang wanita bangsawan muda yang terpelintir dalam pusaran kekuasaan dan cinta di jantung Kekaisaran Romawi. Setting historisnya begitu kaya, dengan detil-detil seperti pakaian, arsitektur, dan hierarki sosial yang membuat dunia fiksinya terasa hidup. Konflik utamanya berpusat pada pertarungan antara ambisi pribadi dan kewajiban keluarga, dengan sentuhan romance yang mengingatkan pada dinamika hubungan dalam 'Pride and Prejudice' tapi dengan twist gladiator dan konspirasi istana.
Yang menarik dari karya ini adalah bagaimana penulis membangun karakter Aurelia. Dia bukan sekadar protagonis biasa—kepribadiannya berkembang dari gadis naif menjadi strategis ulung, mirip perkembangan Sansa Stark di 'Game of Thrones'. Subplot tentang persahabatannya dengan budak perempuan bernama Livia memberikan kedalaman cerita, mengeksplorasi tema kesetiaan dan pengorbanan. Adegan-adegan di Forum Romanum dan Colosseum digambarkan dengan intensitas cinematik, membuat pembaca bisa membayangkan debu panas dan gemuruh kerumunan penonton.
Unsur romance-nya sendiri punya lapisan-lapisan kompleks. Ada segitiga cinta antara Aurelia, Marcus sang senator idealis, dan Cassius si gladiator misterius. Dinamika ini tidak terjebak dalam klise karena masing-masing karakter punya motivasi yang berdaging. Puncak ceritanya yang berlangsung selama festival Bacchanalia adalah masterpiece penyutradaraan naratif—penuh kejutan, pengkhianatan, dan pengungkapan kebenaran yang memuaskan. Novel ini menyisakan banyak bahan perenungan tentang arti kebebasan dan harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya.