Pesan Nyasar Dari Sahabatku
“Nanti kita pikirkan bersama, Ma. Pasti ada solusi.”
“Mama minta maaf, Ri, kalau Mama banyak membuatmu pusing. Mama hanya punya kamu sebagai tempat curhat. Setelah Papa pergi, hanya kamu yang bisa memahami Mama. Sekali lagi, Mama minta maaf.” Mama mengusap-usap keningku lembut. Memberikan sebuah kecupan di dahi dan kedua pipi. Perlahan, amarahku yang semula sudah mulai naik ke ubun-ubun, mereda lagi. Aku hanyut dalam kasih sayang serta kelembutan Mama. Aku tahu, beliau sangat rapuh. Yang beliau perlukan adalah didengar dan dikasihi. Yang bisa melakukan itu pun hanya aku seorang.
***
Hot Chapters