TEMAN WANITA AYAHKU
Kemeja lusuh, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa kehilangan bisa lebih menyakitkan daripada kemarahan.
“May, Ayah nggak bisa pergi sebelum bicara sama kalian semua.”
Aku menelan ludah. “Kalian semua? Ayah mau apa? Mau minta maaf kayak orang yang cari tanda tangan?”
“May, tolong, Ayah cuma pengin bilang apa yang dulu nggak sempat Ayah bilang.”
Aku ingin mengusirnya, ingin menjerit, tapi ada sesuatu di sorot matanya. Ketakutan? Penyesalan? Aku tidak tahu. Yang kutahu, ada bagian dari diriku yang tak bisa pura-pura tak peduli.