KEMBALINYA SANG RATU
Ia dijadwalkan untuk bertemu dengan para Sensei—guru-guru kebijaksanaan Jepang yang telah mendedikasikan hidupnya bukan untuk mengejar waktu, tetapi memahami waktu.
Ia berjalan melewati lorong-lorong tua kampus Universitas Kyoto, yang sepi tapi hidup, seperti bait puisi dalam bahasa yang ditulis daun. Di taman belakang, di bawah naungan pohon sakura yang mulai mempersiapkan tidurnya di musim dingin, duduklah Sensei Tanaka Kiyoshi, lelaki berwajah damai dengan rambut perak seperti salju yang tak pernah mencair.
“Selamat pagi, Nona Lintang,” ucapnya dalam bahasa Jepang yang lembut. “Sakura ini tak hanya pohon. Ia adalah guru.”