Stetoskop Hati
“Kerja itu pake otak! Baru koas aja kerjamu sudah teledor seperti ini. Gimana kalau udah resmi jadi dokter? Apa yang akan kamu lakukan hanya akan menghilangkan nyawa orang lain saja?”
Astaga, kenapa kata-katanya menyayat hati. Seperti merendahkan orang lain. Jika aku menjadi koas itu, sudah pasti aku akan melawan jika dipandang sebelah mata seperti tadi. Mentang-mentang sudah menjadi dokter, jadi sombong. Amit-amit kalau sampai jodohku dokter kejam seperti dokter yang berdiri membelakangiku.
“Maaf, Dokter. Lain kali saya akan lebih teliti lagi,” kata koas itu seraya menundukan kepalanya hormat.
ตอนยอดนิยม