Gila, menerjemahkan lagu itu bisa bikin aku terpaku berjam-jam — tapi asyiknya bukan main. Pertama-tama aku selalu mulai dengan mendengarkan 'Boyfriend' berkali-kali tanpa sambil membaca liriknya, cuma untuk nangkep mood dan nada vokal. Dari situ aku catat bagian yang terasa penting emosinya: apakah marah, manis, menggoda, sedih, atau sarkastik. Setelah itu aku tulis arti literal tiap baris supaya fondasinya kuat.
Langkah berikutnya yang aku ambil adalah memutuskan gaya terjemahan. Aku sering bikin dua versi: versi literal untuk memahami makna asli dan versi natural yang enak dibaca. Misalnya kalau ada slang atau ungkapan khas Inggris yang kaku jika diterjemahkan kata-per-kata, aku ganti dengan idiom Indonesia yang punya efek serupa—bukan terjemahan harfiah, tapi tetap mempertahankan nuansa. Selain itu aku perhatikan ritme dan jumlah suku kata kalau niatnya mau dinyanyikan; kadang harus memendekkan atau memperpanjang frasa biar bisa masuk melodi.
Saran praktis lain yang selalu aku pakai: jaga konsistensi terjemahan untuk refrain yang berulang, tulis catatan kecil soal konotasi kata yang dipilih, dan tes hasil terjemahan dengan nyanyi pelan-pelan supaya frasa nggak terdengar canggung. Terakhir, selalu hormati karya aslinya—cantumkan sumber jika ingin berbagi terjemahan non-komersial, dan nikmati prosesnya. Menyelaraskan makna dan musik itu susah tapi super memuaskan ketika berhasil.