Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Belaian Hangat Om Bastian

Belaian Hangat Om Bastian

Maka, malam itu, sambil menahan geram dan mual karena harus menulis puisi memuji Bastian, Naira mengetik dengan emosi. “Aku ampe harus nahan mual karena baca tulisanku sendiri, sialan!” Malam itu bagaikan malam kesengsaraan untuk Naira. Besok paginya, setelah menaruh kertas berisi puisi yang dipesan Bastian, pria itu masih saja memberikan perintah gila, “Bacakan di sini, di depanku! Pakai suara yang bagus dan intonasi mendayu. Cepat!”
106.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 168 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Jeruji Tanah Anarki

Jeruji Tanah Anarki

“Dedaunanku menari Iringi senandung nabastala Cerah berpendar Sebiru gagang pedangmu Lukaku merona Pancar penuh tawa Atas kabar bersambutnya rasa Dersik pembawa bahagia Katamu akulah sahmura Pendar mewangi helai mahkota Kataku akulah akara Pendar meluruh tiap amerta Sejuk dersik sarayu Simpul terukir kehadiratmu Indah irama jantung bertalu Tuan, nada ini untukmu.” Usai membaca puisi, Shaw mengusap tengkuk. “Aaa ... aku tidak begitu memahami puisinya.” “Tapi puisinya bagus. Kira-kira siapa penulis puisi itu?” Jari telunjuk Bailey mengetuk-ngetuk dagu, otaknya berpikir.
109.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 382 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Jebakan Sang Kupu-Kupu Malam

Jebakan Sang Kupu-Kupu Malam

Kesal Mia karena sahabatnya justru tertawa dan tidak mendengarkan penjelasannya lebih lanjut. "Baiklah. Aku akan mendengarkan teori Mr. Metraxis sebagai kue coklat." Alicia berusaha menahan tawanya. "Jika kue coklat ini memiliki kesempurnaan tingkat tinggi, maka banyak orang akan memperebutkan untuk mendapatkannya. Kamu lihat bukan berapa wanita cantik yang kemari hanya untuk menemui Mr. Metraxis. Karena itu pesona Mr. Metraxis sangatlah berbahaya. Sedangkan Nash, dia menyembunyikan ketampanannya di balik kacamatanya. Kalau saja kamu mengamati Nash lebih lekat lagi, kamu bisa melihat ketampanannya." Mia menyunggingkan senyuman lebar saat membicarakan tentang Nash.
108.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 333 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Pacar Pura-Pura

Pacar Pura-Pura

seperti indahnya bila matamu memandangku bait yang tergabung dari sebuah kalimat susunan kata ratomantis yang kuambil dari sebuah buku dimana pernah kamu kirimkan sepucuk surat cinta saat aku benar benar haus akan cintamu kaulah penawar dahagaku kaulah pelipur laraku kaulah penghias kehampaanku hingga seluruh rasa dan ragaku terbuai dengan angan dan khayalan mengharapkanmu selalu ada disisi disetiap detak jantung hidupku dan setiap hembusan nafasku” ucap Kevin yang membacakan puisi ini pada selingkuhannya ini Puisi yang di bacakan Kevin cukup bagus dan dia mendapatkan tepuk tangan dari para penonton dan juga pembawa acara yang menurutnya puisi yang Kevin bacakan tadi itu bagus, dan setelah i
109.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 191 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Tak Terkalahkan Sejak Lahir

Tak Terkalahkan Sejak Lahir

Apa maksud dari pepatah, "Sekumpulan ayam panggang terbang ke selatan, dan dua bebek panggang menuju ke utara" Hal itu memenuhi tempat acara dengan suasana gembira. Saat para talenta sejati dan putra-putra pejabat yang telah mempersiapkan puisi mereka sebelumnya naik ke panggung, kualitas puisi-puisi tersebut langsung meningkat, membuat penonton takjub. Bahkan ada beberapa puisi karya cendekiawan Konfusianisme terkenal yang dibeli dengan uang, dan membacanya dapat membuat pembacanya tampak bersinar dengan cahaya ungu, sehingga membuat mereka menjadi sangat kaya.
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Titipan Cinta Bentara

Titipan Cinta Bentara

Jalan Penuh Puisi Aku serupa melihat silet lelaki yang kukenali sejak lama Ketika itu aku berjalan di tenah rerimbunan pohon berdaun larik-larik puisi Dengan tangkai yang meranggas serupa sajak-saja pekat Langkahku maju meski ragu-ragu Menginjak serakan bait-bait coretan pujangga Siluet itu kini berubah menjadi seorang lelaki seutuhnya Wajahnya serupa rumah yang tak pernah kujumpa Wangi yang menguar dari tubuhnya terlalu sering kuhirup namun tak pernah tercium oleh hidungku Dadanya serupa tempatku berkeluh kesah namun tak pernah Namun tak pernah kusentuh Lelaki itu berjalan ke arahku, di jalan yang penuh dengan puisi.
3.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 113 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Hidup Kembali di Zaman Kuno

Hidup Kembali di Zaman Kuno

Guru: "Sastra bukan sekedar untaian kata. Ia adalah cermin jiwa dan perjalanan zaman. Nah, siapa di antara kalian yang dapat menjelaskan makna bait pertama ini?" Seisi kelas diam, hingga Raka mengangkat tangan dan mulai berbicara dengan lancar. Raka: "Puisi ini bukan sekedar mengisahkan keberanian, tapi juga pengorbanan. Seorang pemimpin sejati bukan hanya menggenggam pedang, tapi juga berpikir jauh ke depan. Seperti pepatah, 'Mata pena lebih tajam dari mata pedang.'"
1012.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 300 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

"Sayangku, terima kasih, Ginos begitu mudah percaya padaku berkat kamu." "Aku bilang Susan menindas kita, ingin mendorongku menuruni bukit dan menghasut penggemar untuk menyakitiku. Begitu aku mengatakannya dan kamu menambah-nambahkan, dia langsung percaya." Nana tersenyum, "Bibi jahat dan anak haram itu diusir. Apa Paman Ginos bisa menjadi ayahku sekarang?" Wenny berkata dengan bangga, "Ya, dia akan menjadi suamiku dan ayahmu!"
17.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 459 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Sentuhan Panas Editorku

Sentuhan Panas Editorku

“Kenapa, Bi? Kok ada hikmahnya?” “Biasanya kalau habis badai besar begini, pagi-pagi begini muncul pelangi di balik bukit pinus itu, Neng. Indah sekali, warnanya ramai dan cantik,” cerita Bi Aam dengan mata berbinar. Mendengar kata pelangi, mata Meysa langsung berbinar. Sebagai penulis roman, ia selalu lemah dengan hal-hal estetis dan puitis seperti pelangi. “Beneran, Bi? Di mana munculnya?”
108.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 251 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Alstroemeria

Alstroemeria

"Saat jumpa pertama engkau beri hatimu relungnya rona pagi cerah musim semi Saat jumpa kembali engkau sampaikan seuntai kata baranya laksana musim panas tak terlukiskan Ketiga kalinya engkau beri tanganmu dalamnya tersembunyi musim rontok daun berguguran Terakhir kalinya berjumpa lewat mimpi singkatku dalam mimpi terdapat gumpalan angin musim dingin." Ah mengapa panjang sekali? Mengapa puisi ini sangat aneh? berakhir dengan musim-musim dan musim, tapi tunggu...
1015.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 437 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status