Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Poison (Racun untuk Maduku)

Poison (Racun untuk Maduku)

mataku terbelalak melihatnya. "Ya." "Aku butuh yang lebih banyak dari ini, Mbah. Ini kan hanya setetes," ucapku. "Mbah dan Nyimas hanya bisa memberimu setetes. Poison itu tidak akan langsung mematikan korban, tetapi akan membuatnya menderita perlahan-lahan sampai kau puas. Kamu jangan khawatir, nanti setiap madumu meneteskan air mata, botol bening itu akan terisi lagi oleh setetes poison. Dan kau bisa gunakan keesokan harinya. Begitu seterusnya, sampai kau puas mempermainkan penderitaan madumu," jelas Mbah.
107.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 208 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Lebih dari selamanya

Lebih dari selamanya

Siapa gerangan yang berhak bersanding denganmu? Aku hanyalah Senja yang selalu takut mendekatimu... Berharap ketika kau membenciku... Pantaskah aku memperjuangkanmu? Puisi sang Senja yang sedang merindu. Ia tulis di sebuah kertas dengan pena pemberian raja sewaktu ia mengikuti sayembara puisi untuk sang putri. Ia sangat dekat dengan raja tapi tidak tahu maksud kedekatan itu karena memiliki perasaan dengan sang putri. Sayembara itu hanyalah hadiah berupa uang bagi rakyat jelata sepertinya. Ibunya menjadi dayang. Ayahnya menjadi Prajurit. Sedangkan dirinya hanya bisa membantu kedua orang tuanya jika ada bantuan. Kalau ditanya hobi, ia memiliki hobi memandang sang putri. Sementara cita-citanya
105.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 205 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Old Fesbukers

Old Fesbukers

arga yang hijrah dari pulau Jawa dan menetap di tanah asing di sebuah kota kecil yang selalu dingin ini. Bila kau bisa ingat puisi-puisi yang ditulis ibumu dalam sebuah buku harian yang dia belikan untukmu? Kau akan tahu bagaimana rasanya kalau ada seseorang dengan gaya penulisan yang sangat mirip denganmu. Kau bisa membaca siratan maksudnya sejelas mengetahui arti dari sebuah pertanyaan dalam teka-teki silang. Bahkan sekalipun ibumu tidak pernah mengeluh, kau bisa membaca keluhannya melalui tulisan-tulisan itu. Jadi ketika dalam buku puisi yang sama, kau menemukan sebuah puisi yang mengisahkan tentang sebuah cinta terlarang, maka kau akan bertanya-tanya untuk siapakah puisi yang ditulis Ema
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Demi Anak Suamiku, Kurela Jadi yang Kedua

Demi Anak Suamiku, Kurela Jadi yang Kedua

PUISI SATIR TENTANG YANG LUKA DIA TERBANG TAPI TAK PUNYA SAYAP KARENA DEMIKIAN SEKARANG IA SUDAH MERAYAP SAYANGNYA IA TIDAK MERAYAP SESUAI TEMPAT SEHINGGA DEDAUNANNYA ITU JATUH TERLEBIH DAHULU SEBELUM DIRAPAT JIKA DEDAUNANNYA SUDAH RUNTUH APALAH DAYA SEBUAH BUAH YANG TIDAK MEMPUNYAI ALAT FOTOSINTESIS SEBAGAI RUMAH YANG MEMBERINYA BUTUH TENTU BUAH ITU TAK JADI SEGAR TENTU BUNGA ITU TAK JADI MEKAR MEMANG SEBUAH KEJAHATAN TIDAK AKAN LARI DARI PENANGKAPAN MEMANG YANG BAIK ITU AKAN SELALU MENDAPATKAN CELAH KEMENANGAN
103.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 79 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Jebakan Manis

Jebakan Manis

Saat aku masih belum puas, Liam mendekat dan menyodorkan segelas minuman. "Aku nggak minum lagi. Hari ini sudah terlalu banyak minum, kalau lanjut lagi aku nggak bisa pulang," tolakku sambil menahan sensasi aneh di bawah sana. "Ini bukan alkohol, ini jus pereda mabuk. Minum sedikit saja agar perutmu lebih nyaman.” “Apa kamu merasa nggak enak badan? Aku melihatmu terus duduk di pojok sendirian. Bagaimana kalau kuantar pulang saja sekarang?"
3.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 84 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Setiap batu bata menyimpan gema dari kalimat yang baru ditulis, setiap lorong membawa jejak napas dari para tokoh yang telah berani mengubah takdir mereka sendiri. Kai duduk di lantai ruang utama, membentangkan naskah yang muncul setelah pena menulis sendiri. Lena berdiri di sisinya, membaca dalam diam. Kata-kata yang tertulis di halaman itu tidak berbentuk narasi biasa. Ia seperti puisi yang belum rampung, namun sudah punya roh. Setiap barisnya mengandung makna yang bergerak, tidak bisa dibaca dua kali dengan pemahaman yang sama.
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

Sabun berbusa tapi ia tidak peduli. Kata-katanya canggung, tata bahasanya salah, rimanya tidak jelas, tapi tulus. "Mata Raisa seperti bintang di langit Bandung". Ia tertawa waktu itu, bilang itu puisi paling konyol yang pernah ia dengar. Tapi ia simpan sampai sekarang di laci. Lipat rapi. Seperti artefak dari kehidupan lain. Sekarang satu-satunya puisi yang kau tulis adalah laporan keuangan. Angka dan grafik. Tidak ada ruang untuk perasaan.
18.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 368 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Secangkir Kopi Untuk CEO

Secangkir Kopi Untuk CEO

Sagara duduk termenung di sebuah kafe sambil membaca selembar puisi di tangannya. Bait demi bait, ia baca. Puisi karya Pena Langit ini sebenarnya tidak terlalu buruk jika diperhatikan baik-baik. Meski pemilihan kata-katanya kaku. Namun apa yang ingin disampaikan dalam puisi ini cukup menarik. Tidak terlalu muluk-muluk. Namun sayangnya apa yang tertulis indah dalam puisi ini belum bisa tersampai ke telinga Anita karena ia buru-buru mengusirnya.
107.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 194 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Alisya

Alisya

Semaksimalnya untuk hasil terbaik. Denganmu, kami bisa melihat Dengan adamu, kami bisa membaca Dengan hadirmu, kami bisa berjuang Dengan sapaanmu, kami terhindar dari kegelapan LAMPU Puisi yang ditulis Aiys di rangkaian yang ia gambar. "TEEEEEEEETTTTTTT," bunyi bel dengan menandakan telah usai sesi dua. Juna, Aiys, dan Tasya segera mengangkat tangan dan kemudian mengemas barang-barang mereka. Sebelum beranjak mereka sempatkan berfoto dulu dan memfoto hasil karyanya.
3.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Dia mengucapkan bait terakhir bukan sebagai pembaca, melainkan sebagai undangan: “Ambillah tubuh ini, wahai puisi yang tak selesai. Biarlah aku menjadi lanjutan kata-katamu.” Dan gema menjawab. Namun bukan gema biasa—ini gema yang datang dari dalam dirinya. Tubuh Jatari menjadi medium. Bayang Saram tidak merasuk seperti hantu, melainkan mengisi celah antara detak jantung dan kata yang belum ditulis. Mata Jatari mulai memantulkan simbol, dan suaranya berubah menjadi irama yang membuat burung-burung batu menangis. Dia tidak sepenuhnya hilang, tapi dia bukan lagi satu orang: dia menjadi dualisme puisi hidup, antara masa lalu dan masa kini.
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai bait puisi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status