KUNTILANAK MERAH
Bahkan di malam Jumat Kliwon, ketika seluruh desa menutup pintu rapat-rapat dan menggantung bawang putih di jendela, Bu Sri tetap melayani pelanggan dengan senyum lebar dan celemek bertuliskan “Makan, Jangan Takut. Setan Juga Lapar.”
Malam itu, setelah urusan Pak Karmin—si tukang cukur gaib—beres, mereka duduk di bangku kayu panjang di depan warteg. Lampu warteg remang-remang, hanya disinari cahaya neon warna kuning yang berkedip-kedip seperti film horor zaman 90-an.
“Bu, nasi goreng tiga. Pedes level akhirat,” ujar Ucup.