Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?

Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?

Lola mendekat dengan penasaran, "Dari mana kamu dapat daun itu?" Lala menatap daun di tangannya sejenak, lalu mengangkatnya setinggi wajahnya, memperlihatkan lubang ajaib itu ke cahaya. "Oh, ini? Aku nemu di tanaman yang tumbuh di tanah, di sebelah sana." Dia menunjuk ke arah sisi kiri rumah, meski Lola dan Lulu tidak bisa melihat tanaman spesifik yang dimaksud dari sini. "Tumbuhnya di tanah, bukan di pohon."
599 viewsOngoingAdded to Library 11 Times as bangun daun
Read
+Library
Petani Terkuat

Petani Terkuat

Daun-daun yang menguning bergetar halus, lalu warna pucatnya memudar sedikit demi sedikit. Hijau. Warna hijau mulai kembali. Bukan perlahan seperti pertumbuhan biasa, melainkan jelas terlihat oleh mata telanjang. Urat daun yang semula kusam kembali segar. Cabang kecil tumbuh dari sisi batang. Beberapa kuncup muncul, membesar, lalu memperlihatkan tanda-tanda bunga baru. Dalam waktu singkat, tanaman yang tadi tampak hampir mati berubah menjadi subur.
106.6K viewsOngoingAdded to Library 183 Times as bangun daun
Read
+Library
Penjelajah Benak

Penjelajah Benak

Atau apartemen, jika mengingat bangunannya yang tersebar bertingkat-tingkat hingga jauh ke atas. Seperti layaknya pemukiman, disana sini tampak daunas yang sibuk memulai aktifitas pagi mereka. Daunas-daunas berukuran kecil terbang kesana kemari sambil mengumpulkan tetesan embun yang terlihat berkilau terkena cahaya matahari pagi. Ada pula yang sedang sibuk terbang dari satu bunga ke bunga yang lain melakukan sesuatu di dalam kelopak-kelopaknya. Sementara daunas-daunas yang lebih besar melakukan hal-hal yang membutuhkan tenaga lebih seperti memindahkan barang atau memperbaiki sesuatu. Mau tidak mau aku tersenyum.
105.4K viewsOngoingAdded to Library 129 Times as bangun daun
Read
+Library
Sang Pemburu Naga

Sang Pemburu Naga

tanya Muhan, memastikan bahwa pendengarannya baik-baik saja. "Kau tidak mendengarnya dengan cukup jelas ya? Kau harus menggendong batu besar ini satu persatu, selagi aku berusaha mengenaimu menggunakan daun." "Ha?" Muhan merasakan sudut pipinya berkedut. "Daun, Guru? Daun? Bukan pisau atau belati, atau anak panah—melainkan daun?"
102.9K viewsOn holdAdded to Library 117 Times as bangun daun
Read
+Library
PENDEKAR TERAKHIR TANAH JAWA

PENDEKAR TERAKHIR TANAH JAWA

Api terus bergerak masuk kedalam gua meninggalkan bekas terbakar di belakangnya. Tumbuhan berdaun merah yang menyerang sekarang tinggal sisa-sisa ranting terbakar yang mengeluar asap tebal membumbung di udara. Kyai Rangga mengeluarkan selembar daun merah yang disimpannya, dilihatnya lagi daun merah itu yang perlahan-lahan berubah jadi abu dan lenyap melayang ke udara.
1011.6K viewsCompletedAdded to Library 279 Times as bangun daun
Read
+Library
BAYANGAN PENASEHAT AGUNG

BAYANGAN PENASEHAT AGUNG

Tian menatap serius lalu bertanya, “Kenapa harus diberi jarak?” “Kalau terlalu rapat, mereka akan berebut makanan dan cahaya,” jawab Rael. “Kalau rapi, pertumbuhannya lebih sehat.” Setelah semua bibit tertanam, Rael menutup permukaan tanah dengan daun kering. “Ini namanya mulsa. Gunanya untuk menjaga kelembapan, jadi tanah tidak cepat kering.”
102.4K viewsCompletedAdded to Library 92 Times as bangun daun
Read
+Library
TAKDIR CINTA NADIA

TAKDIR CINTA NADIA

"Sudah, itu saja!" Bela berlari mencari daun tujuh rupa dengan segera, sebab waktu hanya diberikan sepuluh menit. Mulai dari daun mangga, daun pepaya, daun kamboja, daun bunga mawar, daun sirsak, daun pisang, dan daun kelor. Semua dikumpulkan, beruntung sekolah itu memiliki taman yang luas. Jadi, tidak sulit untuk menyelesaikan hukuman yang diberikan. "Ini, Kak." Bela memberikan seluruh daun yang digenggam.
108.5K viewsCompletedAdded to Library 228 Times as bangun daun
Read
+Library
BUKAN MEMPELAI IMPIAN

BUKAN MEMPELAI IMPIAN

"Iya, Sayang. Ini namanya daun kelor. Bisa untuk sayur, bisa juga untuk obat. Banyak vitaminnya." Anak-anak PAUD sudah duduk melingkar di atas tikar pandan besar, diteduhi pohon flamboyan yang sedang mabuk bunga merah. Sepoi-sepoi membuat ranting bergemerisik seperti bisikan rahasia. Masing-masing murid memegang tanaman yang mereka bawa dari rumah—ada pot plastik mungil, bahkan ada yang hanya berisi segenggam rumput. "Ibuku nanam bunga mawar! Wanginya kayak minyak rambut Ayah," seru Lintang sambil mengangkat pot kecilnya, disambut gelak tawa teman-teman.
1038.8K viewsCompletedAdded to Library 775 Times as bangun daun
Read
+Library
Penakluk Dunia

Penakluk Dunia

Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah keajaiban, membuat ketenangan Di Tian sedikit goyah. Dengan kecepatan yang bisa terlihat oleh mata telanjang, bunga lili itu tumbuh. Dari tengah tangkai, sebuah anak daun mulai terlihat, kemudian membesar menjadi daun yang utuh. Selanjutnya sembilan kelopak itu melebar, memberi celah bagi kelopak kesepuluh untuk tumbuh.
9.8443.3K viewsCompletedAdded to Library 13.3K Times as bangun daun
Show Reviews (181)
Read
+Library
Jimaro Chan
welcome back, Senior Ye. akhirnya hadir kembali setelah sekian lama, dan memberi kejutan besar tentang dalang pembantaian di Benua Utara. ceritanya makin rumit dan kompleks. Semangat tuk terus berkarya, Senior Ye....
Embunayu
Hai kak.. ijin perkenalkan novel saya ya.. menceritakan tentang pangeran yang lemah masuk dalam dunia beladiri, sihir, penyelidikan jati dirinya dan cinta Berjudul " Perjalanan Jati Diri Pendekar Pedang Api " silahkan mampir
Read All Reviews
Pelukan Panas Tukang Kebun

Pelukan Panas Tukang Kebun

Tanpa pikir panjang, ia meraih salah satu daun terbesar dan menariknya kuat-kuat hingga tangkainya terlepas. Ia merobek beberapa daun lainnya lalu menumpuknya di atas kepala seperti payung darurat. Daun-daun itu memang tidak mampu menahan seluruh hujan, tetapi setidaknya mengurangi air yang terus menghantam wajah dan matanya.
104.0K viewsCompletedAdded to Library 132 Times as bangun daun
Read
+Library
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status