Dosa dalam Cinta
Jemarinya bergetar saat memegang sepotong kertas lusuh yang sudah hampir hancur oleh air—surat cinta yang ditemukan di antara reruntuhan, tulisannya pudar, namun kata-katanya membakar dadanya lebih panas dari bara api manapun.
“Hujan ini... seakan menertawakan kita semua, ya?” gumam Satrio lirih, suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh petir. Napasnya berat, dada terasa seperti diremas, dan di matanya, kilatan luka masa lalu melintas cepat—wajah Sekar, suara tangis anak kecil, bayangan Citra yang memudar dalam kabut merah. Semua bercampur dalam pusaran rasa bersalah yang tak tertanggungkan. Hujan membasahi luka-lukanya, darah bercampur dengan lumpur, menciptakan garis-garis me
Sikat na Kabanata