Salah Melamar
Kuyakin kini wajahku memerah bak buah tomat siap panen.
Ibu kembali terkekeh dengan sifat konyol anaknya. Sedangkan kini, aku mendelik ke arah lelaki yang diam-diam mencuri hatiku.
**
Disini, aku berdiri berjibaku dengan bahan makanan. Jika biasanya Mas Ammar suka dengan soto buatanku. Lain halnya dengan Mas Adam yang lebih menyukai capjay yang kaya dengan sayur. Ia menyukai brokoli hijau yang dimasak setengah matang, masih meninggalkan suara kres ketika dikunyah. Semua bahan sudah kucampur, dengan bumbu dan juga penyedap, hanya tinggal incip untuk memastikan rasanya. Mendadak, perut ini terasa seperti melilit, bagai berputar-putar dengan rasa yang luar biasa. Aku masih mencoba bertahan deng
Hot Chapters