Bias Cinta
ujar Dinda sambil berjongkok di hadapan putranya, “adek belum.”
“Beyi yagi!” seru Niel sambil mengangguk. Menghabiskan jarak, lalu bersandar manja pada Dinda. “Beyi, Mi, ya?”
“Tidak, tidak.” Kedua tangan Dinda mengalung di tubuh Niel. Ia menggeleng pelan, memberi penolakan. “Tidak ada beli sepeda lagi, karena yang kemarin belum habis.”