KUNTILANAK MERAH
Desi, Raka, dan Ucup duduk melingkar di tengah ruang tengah yang kini hanya diterangi lampu minyak tua.
Buku catatan kutukan kuntilanak merah terbuka di tengah mereka. Aroma kayu tua dan jamur menyeruak dari tiap halamannya. Raka membacanya dengan suara serak, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.
> “Siapa pun yang melihat senyumnya akan terus melihatnya—sampai mereka tertawa, atau mati.”
Desi berbisik, “Itu bukan cuma metafora. Ada alasan kenapa di desa ini tidak ada orang yang tertawa keras sejak dua dekade terakhir.”