KURELAKAN SUAMIKU UNTUK MANTANNYA
tanyaku.
Luna bukannya menjawab. Namun aku melihat buliran bening di matanya seolah berdesak-desakan, berlomba-lomba hendak keluar. Dan benar saja, dalam sepersekian detik, air matanya sudah tumpah ruah, membasahi pipi mulusnya.
Namun tidak terdengar Isak tangis. Hanya bibir ranumnya saja, yang bergetar.
"Sayang, kamu kenapa nangis? Sedih, karena punya suami yang tidak berguna seperti aku?"