DOSA TERINDAH
“Dih, ngaku-ngaku ganteng.”
“Kalau nggak ganteng kamu nggak akan ngelirik, Ay.”
Aku tertawa.
“Nah gitu dong, jangan nangis terus,” ucapnya saat melihatku tertawa.
“Sudah kubilang aku nggak suka liat kamu nangis,” lanjutnya.
“Aya.”
Aku diam, membiarkannya bicara.
“Jangan pulang ke rumah ibumu dulu. Tunggu aku, biar kutemani. Agar bukan hanya kamu yang disalahkan dalam hal ini.”