Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
SANG KAPTEN

SANG KAPTEN

ucapnya sambil berjalan ke arah sofa dan menghenyakkan tubuh sintalnya ke bantalan sofa. Untuk sesaat pikiran Praditia travelling kemana-mana melihat gumpalan dada yang membusung besar dibalik balutan kemeja putih dan rok span di atas lutut. Ada yang menggemuruh di dada Praditia. Dirasa ada yang sesak di dalam celana jogernya. "Aku nggak ditawarin minum?" tanya gadis itu polos dan apa adanya. Praditia tersentak sesaat. "Oh iya!" jawabnya lalu berjalan ke arah kulkas berbentuk segi empat denga 4 pintu itu. Terbilang kulkas mahal.
1027.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.0K kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
Renjana

Renjana

aduh, aku sudah terbata-bata lagi, sekilas ku lirik dia, dia masih sibuk meracik mangkok-mangkok sotonya. “Mana yang namanya Adit, katanya kalau Dika ke sekolah kakak, kakak akan tunjukkan kak Adit, katanya kakak suka sama dia, katanya …” buru-buru ku tutup mulut anak setan itu, ku lepaskan genggamanku dan ku suruh ia pergi. Aku mendongak, Adit kini mematung, menatapku, sendok sambal masih ada ditangannya yang tak bergerak, aku harus bagaimana? Dasar anak setan! Aku tidak tahu harus berkata apa atau melakukan apa untuk menghilangkan kecanggungan ini, aku tersenyum, tapi dia tak bergeming, aku menarik lagi sudut bibirku kembali keposisi semula. Aku membawa dua mangkuk soto dan bergegas menyir
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 120 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
KINASIH

KINASIH

"Ini ... kok mirip punya Papa?" Mariana mengamati sebuah kunci dengan gantungan yang tak asing baginya. Sebuah benda yang terbuat dari besi berwarna perak, dengan ukiran kanguru dan nama negara di bawahnya. Sedangkan saat dia melihat bagian belakang benda itu, Mariana cepat melepaskan dan membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Dia menggeleng kuat, tak kuasa membayangkan lebih jauh tentang suaminya.
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
Kebahagiaan Menanti

Kebahagiaan Menanti

Zayn berkata dengan marah, "Apa kamu pikir aku dan Jihan hanya main-main? Kuberi tahu, Grup Mahendra memutus hubungan kerja sama dengan perusahaan Tante Anisa. Pak Arya juga menyebabkan perusahaan Tante Anisa mengalami krisis. Kalau krisis ini nggak diselesaikan, perusahaan akan bangkrut." "Tante Anisa sudah berjanji akan menyerahkan perusahaannya kepadaku dan Jihan. Kamu harus membujuk Pak Arya untuk berhenti menyerang dan melanjutkan kerja sama dengan kami. Kalau nggak, kamu bukan ibuku lagi." Jihan berkata dengan wajah muram, "Betul, Bu. Kami ingin ibu hidup bahagia, tapi jangan membuat kami memutuskan hubungan denganmu."
5.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 166 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
KUNJUNGAN MENANTU

KUNJUNGAN MENANTU

Tetapi pada akhirnya aku tenang dan berfikir bahwa tidak akan terjadi apa apa, pada saat bersamaan hatiku diam diam merasa tenang, karena sekarang aku mengenakan topeng. Lalu aku melihat mereka, hari ini Bunga tidak mengenakan Cheongsam, tetapi rok panjang berongga pink, sangat ramping, dia menunjukkan dada yang wah dan pinggang rampingnya. Yang membuatnya terlihat lebih muda, orang orang yang tidak mengenalinya pasti akan berfikir bahwa dia adalah seorang wanita berumur 30 tahun kebawah.
8.56.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 132 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
Rayuan Maut Dokter Cantikku

Rayuan Maut Dokter Cantikku

Wajah Zinia tampak lelah, jas dokternya tersampir di lengan. "Nanta? Kamu ngapain di sini?" tanya Zinia heran. Kananta memasang wajah memelas, tangannya memegang sebuah kantong plastik berisi satu ikat kangkung dan sepotong tempe. "Zin ... maaf mengganggu. Aku tadi mau pesan makan di luar, tapi ternyata saldo sisa di rekeningku cuma cukup buat beli kangkung sama tempe ini," ucap Kananta dengan nada suara yang sengaja dilemaskan dua oktaf.
827 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
Hasratku Menjadi Candunya

Hasratku Menjadi Candunya

“Nyonya, Tuan sudah berangkat ke luar negeri. Beliau meminta saya menyerahkan kartu ini kepada Anda. Mulai sekarang, semua kebutuhan Anda bisa diambil dari kartu ini. Kodenya adalah tanggal lahir Anda.” Shiyu hanya melirik sekilas, lalu meletakkannya di samping. Paman Chen tersenyum canggung dan menambahkan, “Beliau juga berkata, kalau Anda butuh sesuatu, bisa langsung menghubunginya.
10826 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
JERAT CINTA RENTENIR MUDA

JERAT CINTA RENTENIR MUDA

“Enggak, Bang. Makasih.” Wanita itu beranjak menuju stand lain. Aneka makanan dan minuman dijual di sana, mulai dari permen kapas, sosis bakar, es teh, hingga bakso aci. Tertarik dengan gulungan permen kapas berwarna pink cerah, Ayu pun memesan satu untuk dimakan di tempat. “Berapa, Bang?” tanya Ayu sambil merogoh saku. “Goceng aja, Teh.”
1.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta

Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta

"Y-ya?" "Kenapa malah melamun?" Sinta menggelengkan kepalanya dengan canggung. Arjuna pun hanya tersenyum dan tidak bertanya lebih lanjut; pria itu malah membuka topik obrolan baru. "Aku dengar menu yang paling laris di sini adalah tongseng sapinya. Aku sangat penasaran, mau coba?" Sinta juga menyukai tongseng, sama seperti mendiang ibunya yang juga sangat menyukai menu makanan khas Jawa Tengah itu.
107.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 140 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
Manusia Penakluk Dunia

Manusia Penakluk Dunia

Ia tidak benar-benar terlihat seperti menghadang, melainkan seperti mengharapkan pelukan dari para The Horn di rombongan. Tiba-tiba rombongan itu berhenti beberapa meter dari Jillian. Seorang bertubuh besar turun dari eura-nya, tangannya memegang tongkat kayu dengan ujung batu kristal berwarna biru gelap. The Horn itu tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya untuk berpelukan dengan Kanta. “Kepala Suku Kanta,” sapa The Horn itu. “Kapala Suku Selitan,” balas Kanta dan kedua kepala suku itu berpelukan dengan akrab.
1015.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 522 kali sebagai kantong menyan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status