Madu Suamiku
"Ya, aku mencintainya, mbak. Maaf aku sudah mencintai suami mbak Zahra sedalam ini. Aku sudah mencintai seperti Aisyah yang mencintai Baginda Nabi, dan aku yakin, kaulah Khadijahnya mbak. Kamu adalah wanitanya yang tak pernah terganti walau ada aku disisinya."
Zahra tampak tersenyum miris. Lagi-lagi seperti ada sayatan pisau yang mengaga di hatinya.
"Tidak. Aku bukan Khadijah. Bukankah kau tahu, sepanjang hidupnya Khadijah tak pernah di madu." Zahra akhirnya menghadap ke arah Nisa kembali. ia hendak bangkit untuk ambil minum di nakas sebelah ranjangnya.
Dimas pun berniat membantu Zahra yang tampak kesusahan. Tapi Zahra menepisnya, "Tidak perlu, aku bisa sendiri." ucapnya, lantas meraih gelas
Sikat na Kabanata