Selir Yang Terlupakan
katanya, suaranya menjadi rendah dan sedikit serak, "aku akan memberimu apa pun yang kau inginkan. Tak ada batasnya."
Tangannya naik perlahan untuk menutupi tanganku di dadanya, menekannya lembut namun erat agar tetap berada di sana.
"Apa pun," ulangnya dengan tegas, seolah menegaskan bahwa janji itu adalah hukum mutlak yang tak akan ia ingkari. "Kekuasaan, harta yang melimpah, kedudukan yang setara dengan siapa pun di istana ini... atau sesuatu yang jauh lebih pribadi, yang tak bisa dibeli dengan emas atau permata."